Maparsa IAI Ar-Risalah Gelar Nobar “Pesta Babi”, Suarakan Kemanusiaan dan Upaya Penyelamatan Lingkungan Kateman

IMG 20260427 WA0023(1)

Suarainhil.com, Kateman – Mahasiswa Pecinta Alam (Maparsa) IAI Ar-Risalah Inhil-Riau sukses menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter eksklusif “Pesta Babi” karya jurnalis investigasi Dandhy Dwi Laksono pada Sabtu malam, 25 April 2026. Bertempat di Cafe Kemuning Vibes, agenda yang dimulai pukul 19.00 WIB ini menjadi ruang refleksi bagi pemuda dan mahasiswa di Sungai Guntung untuk membedah realitas perjuangan masyarakat adat Papua. Film ini menyoroti bagaimana Proyek Strategis Nasional (PSN) atas nama ketahanan pangan dan energi berdampak pada perampasan ruang hidup, kehadiran militer, serta pembabatan hutan yang meminggirkan penduduk asli.

Ketua Panitia, Rizki Aidil, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pemutaran film biasa, melainkan sebuah misi kemanusiaan di mana tiket masuk dikumpulkan melalui donasi sukarela. Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan sepenuhnya untuk membantu para pengungsi Papua yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Melalui nobar ini, panitia ingin membuka mata generasi muda mengenai kompleksitas isu agraria dan dampak kebijakan pembangunan nasional terhadap kelestarian alam di Indonesia Timur.

Ketua Maparsa IAI Ar-Risalah Inhil-Riau, Andi Farhan Maulana, dalam keterangannya menyampaikan bahwa solidaritas terhadap masyarakat Papua harus berjalan selaras dengan aksi nyata menjaga lingkungan di daerah sendiri. Andi mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Kecamatan Kateman, untuk lebih peduli terhadap ekosistem lokal melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak besar. Ia menekankan pentingnya kesadaran individu untuk tidak membuang sampah rumah tangga ke laut atau tempat sembarangan, karena hal tersebut dapat merusak kelestarian perairan Kateman yang ¹menjadi tumpuan hidup masyarakat.

Lebih lanjut, Andi menyarankan agar untuk sementara waktu sampah rumah tangga dapat dikelola dengan cara dibakar di tempat yang aman sebagai alternatif daripada mencemari laut, meskipun disadari hal tersebut bukanlah solusi jangka panjang. Ia menekankan bahwa persoalan sampah di Kateman memerlukan komunikasi, koordinasi, serta kolaborasi yang kuat antara elemen mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah setempat guna menemukan solusi pengelolaan limbah yang lebih modern dan berkelanjutan di masa depan.

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang diskusi berlangsung, salah satunya disampaikan oleh Rifal, seorang penonton yang hadir. Ia mengaku sangat terkesan dengan kedalaman informasi dalam dokumenter “Pesta Babi” yang memberikan sudut pandang jujur mengenai penderitaan masyarakat adat akibat kehilangan hutan. Menurutnya, inisiatif Maparsa ini sangat penting untuk menumbuhkan diskusi konstruktif di kalangan mahasiswa IAI Ar-Risalah demi terciptanya tatanan sosial dan lingkungan yang lebih adil bagi kemanusiaan.

(Sulaiman)

Picture of suarainhil

suarainhil