Nurhayati Usung Gagasan KOPRI Berdaya, Konfercab IV PMII Inhil Jadi Momentum Penguatan Gerakan Perempuan

IMG 20261014 WA0018

SuaraInhil.com, Tembilahan – Momentum Konferensi Cabang (Konfercab) IV Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Indragiri Hilir menjadi ruang penting bagi penguatan arah gerakan perempuan melalui Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI). Dalam momentum tersebut, Nurhayati, calon Ketua KOPRI PC PMII Indragiri Hilir masa khidmat 2026–2027, menawarkan gagasan membangun organisasi yang tidak hanya kuat dalam kaderisasi, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata bagi perempuan dan masyarakat.

 

Mengusung semangat “Berilmu, Berdaya, Bergerak,” Nurhayati menempatkan KOPRI sebagai rumah gerakan perempuan yang kritis, mandiri, progresif, dan berdaya. Gagasan ini menekankan pentingnya menjadikan organisasi sebagai ruang pembentukan kapasitas kader sekaligus wadah untuk merespons berbagai persoalan sosial yang membutuhkan keterlibatan perempuan.

 

Menurut arah gagasan yang dibawanya, keberadaan KOPRI tidak semestinya berhenti pada aktivitas organisasi dan rutinitas kaderisasi. Lebih dari itu, KOPRI perlu menjadi kekuatan yang mampu membangun kesadaran kritis, menumbuhkan kemandirian, serta mendorong kader perempuan mengambil peran strategis dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan kemasyarakatan.

 

Untuk mewujudkan arah tersebut, Nurhayati merumuskan lima fokus utama gerakan, meliputi kaderisasi, pemberdayaan, penguatan gerakan, kolaborasi, dan advokasi. Kelima fokus ini menjadi landasan untuk memperkuat kualitas kader, memperluas ruang partisipasi perempuan, serta membangun kerja bersama yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

 

Dalam aspek kaderisasi, penguatan kapasitas intelektual dan karakter menjadi fondasi penting. Kader perempuan diharapkan tidak hanya memahami nilai dan tradisi organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, membaca persoalan, menyusun gagasan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

 

Sementara itu, pemberdayaan dan penguatan gerakan diarahkan untuk mendorong perempuan menjadi subjek perubahan. Perempuan perlu memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi, membangun kemandirian, dan berkontribusi dalam berbagai sektor kehidupan. Di sisi lain, kolaborasi menjadi jalan untuk memperluas jangkauan gerakan, sedangkan advokasi diperlukan agar organisasi mampu memberikan perhatian terhadap persoalan dan kepentingan perempuan.

 

Bagi Nurhayati, perempuan tidak cukup hanya memperoleh ruang untuk menyampaikan pendapat. Ruang tersebut harus disertai dengan penguatan ilmu pengetahuan, kemandirian, serta keberanian untuk menentukan arah dan mengambil bagian dalam proses perubahan.

 

Perspektif tersebut menempatkan KOPRI bukan sekadar sebagai bagian dari struktur organisasi PMII, melainkan sebagai ruang pembelajaran, pengorganisasian, dan perjuangan yang dapat mempertemukan gagasan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

 

Tagline “Berilmu, Berdaya, Bergerak” sekaligus menjadi penegasan arah perjuangan yang ditawarkannya. Berilmu berarti membangun gerakan dengan pengetahuan dan pemikiran yang matang. Berdaya berarti memperkuat kapasitas serta kemandirian perempuan. Adapun bergerak berarti menerjemahkan gagasan menjadi tindakan yang terukur dan memberikan manfaat.

 

Melalui momentum Konfercab IV PC PMII Indragiri Hilir, gagasan tersebut menjadi bagian dari dorongan untuk memperkuat peran KOPRI sebagai gerakan perempuan yang memiliki orientasi jelas, keberanian bersikap, serta kepedulian terhadap persoalan sosial.

 

Tantangan berikutnya adalah bagaimana gagasan itu dapat diterjemahkan ke dalam program yang konsisten, kolaboratif, dan dapat dirasakan manfaatnya oleh kader maupun masyarakat luas. Dengan demikian, keberadaan KOPRI tidak hanya terlihat melalui aktivitas organisasi, tetapi juga melalui kontribusi yang ditinggalkannya bagi penguatan perempuan.

 

(Sulaiman)

Picture of suarainhil

suarainhil