“Burung tempua terbang ke rawa,
Hinggap sebentar di batang nibung,
Bangkit bangsa bukan sekadar wacana,
Tapi keberanian bergerak sebelum bingung.”
OPINI , Sungai Guntung -Tanggal 20 Mei bukan sekadar angka dalam kalender nasional. Hari Kebangkitan Nasional lahir dari sebuah kesadaran besar bahwa bangsa ini pernah bangun dari ketertinggalan melalui pendidikan, persatuan, dan keberanian berpikir maju. Berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 menjadi penanda bahwa perubahan tidak lahir dari orang-orang yang hanya mengeluh, tetapi dari mereka yang mau bergerak.
Hari ini, tantangannya memang berbeda. Tidak ada lagi penjajahan fisik. Tetapi ada penjajahan gaya hidup, cara berpikir, dan mentalitas instan yang perlahan membuat generasi muda kehilangan arah. Ironisnya, banyak pemuda sekarang aktif di media sosial, tetapi pasif di dunia nyata. Cepat membuat konten, tetapi lambat membangun lingkungan. Heboh dalam tren, tetapi sunyi dalam aksi.
Padahal pemuda sejak dulu selalu menjadi wajah perubahan. Mahasiswa dan generasi muda bukan hanya pelengkap acara seremonial atau pengisi barisan saat kegiatan nasional. Pemuda adalah energi sosial. Ketika anak muda mulai tidak peduli, maka daerah perlahan kehilangan masa depannya.
Di Kecamatan Kateman sendiri, sebenarnya banyak anak muda yang punya potensi besar. Kreatif, cepat beradaptasi, dan punya semangat mencoba hal baru. Namun potensi itu kadang terhambat karena minimnya ruang, kurangnya apresiasi, bahkan sering kali dipatahkan sebelum berkembang. Tidak sedikit pemuda yang akhirnya memilih diam karena merasa suaranya tidak dianggap.
Padahal memberi ruang kepada pemuda bukan berarti harus menunggu program besar. Kadang cukup dengan mendukung kegiatan positif mereka, mengapresiasi karya kecil mereka, atau melibatkan mereka dalam diskusi dan pembangunan lingkungan. Dari situ rasa percaya diri dan tanggung jawab sosial akan tumbuh.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran kolektif bahwa generasi muda tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah, sekolah, organisasi, tokoh masyarakat, dan seluruh stakeholder perlu hadir membuka ruang gerak yang sehat bagi anak muda untuk berkreasi, berdiskusi, dan bergerak.
Karena jika ruang positif itu kosong, maka ruang negatif akan lebih cepat mengambil tempat. Narkoba, pergaulan bebas, budaya malas membaca, hingga kebiasaan hidup tidak sehat menjadi ancaman nyata yang diam-diam merusak generasi muda hari ini. Bahayanya bukan hanya menghancurkan individu, tetapi juga mematikan harapan daerah di masa depan.
Maka kebangkitan hari ini tidak harus dimulai dari pidato besar. Bisa dimulai dari keberanian menjaga diri sendiri. Berani berkata tidak pada narkoba. Berani menjaga lingkungan tetap bersih. Berani hidup sehat. Berani membaca lebih banyak daripada sekadar menggulir layar media sosial. Dan yang paling penting, berani menjadi contoh walaupun mungkin hanya sedikit yang peduli.
Literasi juga harus menjadi bagian dari gerakan kebangkitan pemuda. Sebab bangsa yang kuat lahir dari masyarakat yang mau belajar dan berpikir. Hari ini terlalu banyak orang ingin terlihat pintar, tetapi malas memahami. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu mudah terprovokasi. Maka membaca, berdiskusi, dan membuka wawasan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan.
Pemuda tidak harus menunggu terkenal untuk mulai bergerak. Tidak perlu menunggu punya jabatan untuk mulai peduli. Sebab perubahan sering lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten oleh orang-orang yang tidak banyak bicara, tetapi nyata bekerja.
Mungkin benar, kita belum bisa mengubah Indonesia hari ini. Tetapi setidaknya kita masih bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari kerusakan itu sendiri.
Dan mungkin, dari kesadaran kecil itulah kebangkitan benar-benar dimulai.
Anak nelayan menebar jala,
Air pasang datang perlahan,
Kalau bukan pemuda yang menjaga bangsa,
Lalu siapa lagi di masa depan?
Oleh : Sulaiman
Mahasiswa IAI Ar-Risalah INHIL-RIAU — Fakultas Dakwah, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam
Ketua PMII Komisariat IAI Ar-Risalah INHIL-RIAU
Anggota MAPARSA IAI Ar-Risalah INHIL-RIAU





