Di tengah gemerlap prosesi pernikahan yang sarat makna, sebuah momen sederhana justru menghadirkan getar rasa yang mendalam. Dalam balutan tradisi yang masih dijaga di sebagian masyarakat Sulawesi, kisah tentang “uang pelangkah” kembali mengingatkan publik pada nilai-nilai luhur dalam hubungan kekeluargaan.
Tradisi uang pelangkah merupakan salah satu praktik adat yang hidup dalam budaya lokal, khususnya ketika seorang adik perempuan menikah lebih dahulu dari kakaknya. Dalam tatanan sosial tradisional, urutan pernikahan sering kali dipandang sebagai bagian dari harmoni keluarga. Karena itu, pemberian uang pelangkah menjadi simbol penghormatan kepada sang kakak sebuah bentuk etika kultural yang menjunjung rasa saling menghargai di antara saudara.
Prosesi ini biasanya dilakukan dengan cara yang khas. Sang kakak diberi kesempatan meraup uang dalam satu kali gerakan, bahkan di beberapa daerah dilakukan dengan posisi membelakangi. Gestur ini tidak sekadar ritual, melainkan sarat filosofi: tentang keikhlasan, penerimaan, serta pelepasan harapan yang mungkin belum terwujud.
dikutip dari akun instagram Indonesiaku.id, sebuah video memperlihatkan sebuah tradisi yang sarat akan makna yang dalam. Sang kakak hanya mengambil sekeping kecil sekadar 500 rupiah dari uang yang disediakan. Sebuah pilihan yang sederhana, tetapi penuh arti. Ia seolah menegaskan bahwa kasih sayang tidak diukur dari materi, melainkan dari ketulusan hati dalam merelakan dan mendukung kebahagiaan orang terdekat.
Di balik praktik ini, memang terselip kepercayaan lama yang menyebutkan bahwa kakak yang “dilangkahi” berpotensi sulit menemukan jodoh. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak masyarakat yang mulai memaknai tradisi ini secara lebih bijak—bukan sebagai penentu nasib, melainkan sebagai simbol nilai dan identitas budaya.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana tradisi tidak selalu kaku, melainkan dapat dihidupkan kembali melalui interpretasi yang lebih humanis. Uang pelangkah, dalam konteks kekinian, bukan lagi sekadar ritual adat, tetapi menjadi ruang ekspresi kasih sayang, solidaritas keluarga, dan kedewasaan emosional.
Kisah ini pun menjadi refleksi bahwa di tengah perubahan zaman, nilai-nilai budaya tetap menemukan relevansinya—terutama ketika dimaknai melalui tindakan-tindakan kecil yang tulus. Sebuah pengingat bahwa budaya bukan hanya diwariskan, tetapi juga dirasakan dan dihidupkan dalam setiap relasi manusia.
#Don




