SuaraInhil.com, Kateman — Dari sebuah kecamatan di pesisir Indragiri Hilir, langkah seorang santri kini sampai ke panggung nasional. Razak, santri Pondok Pesantren Daarul Rahman Kateman sekaligus Pramuka Penggalang, dipercaya memperkuat Kontingen Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Indragiri Hilir pada Jambore Nasional (Jamnas) XII Tahun 2026 di Buperta Cibubur, Jakarta Timur.
Kesempatan tersebut menjadi buah dari proses panjang yang dijalaninya bersama Gerakan Pramuka. Razak terpilih sebagai utusan Kwartir Ranting (Kwarran) 03 Kateman setelah melewati tahapan seleksi tingkat cabang dan kemudian bergabung bersama kontingen Indragiri Hilir.
Namanya kini berdiri sejajar dengan 15 Pramuka Penggalang lainnya yang menjadi wakil Kabupaten Indragiri Hilir. Kontingen tersebut terdiri dari delapan putra dan delapan putri dari sejumlah kwartir ranting di daerah itu.
Namun bagi Razak, berada di tengah perhelatan nasional bukan sekadar soal mengenakan seragam dan mengikuti rangkaian kegiatan. Ada tanggung jawab yang ikut dibawanya—nama keluarga, pesantren, Gugus Depan, Kateman hingga Indragiri Hilir.
Sebuah Pengalaman yang Tak Akan Terlupakan
Berada di Cibubur dan bertemu dengan Pramuka dari berbagai daerah memberikan pengalaman baru bagi Razak. Ia dapat melihat langsung bagaimana anak-anak seusianya dari berbagai penjuru Indonesia belajar, berkarya, bekerja sama dan membangun persahabatan.
“Saya sangat bangga dan bahagia bisa mendapatkan kesempatan mengikuti Jambore Nasional. Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya bisa bertemu dengan Pramuka dari berbagai daerah, belajar banyak hal, dan membawa nama Kateman serta Indragiri Hilir di tingkat nasional,” ujar Razak.
Pengalaman itu, kata dia, tidak ingin disimpan untuk dirinya sendiri. Sepulang dari kegiatan nasional tersebut, Razak ingin berbagi cerita dan pengetahuan dengan teman-teman serta adik-adik Pramuka di kampung halamannya.
“Saya ingin pengalaman selama di Jamnas tidak berhenti pada diri saya sendiri. Semoga nanti bisa saya ceritakan dan bagikan kepada teman-teman serta adik-adik Pramuka di Kateman, supaya mereka juga semakin semangat mengikuti kegiatan Pramuka dan berani memiliki cita-cita untuk berprestasi,” katanya.
Di Balik Langkah Razak, Ada Doa Keluarga
Keberangkatan Razak tentu tidak lepas dari dukungan orang tua. Samad, ayah Razak, mengaku bersyukur sekaligus bangga melihat putranya mendapatkan kesempatan belajar dalam kegiatan kepramukaan tingkat nasional.
Bagi keluarga, keberhasilan tersebut bukan hanya sebuah pencapaian, melainkan juga amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Sebagai orang tua tentu kami merasa bangga dan bahagia. Kami bersyukur Razak mendapatkan kesempatan seperti ini. Harapan kami, dia mengikuti semua kegiatan dengan baik, menjaga kesehatan, disiplin, menjaga nama baik keluarga dan daerah, serta mengambil sebanyak-banyaknya pengalaman selama berada di sana,” ungkap Samad.
Ia berharap putranya mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan, kemandirian dan arti menghargai orang lain.
Pembinaan yang Melahirkan Kepercayaan
Bagi pembina Gudep, Kak Heri Susanto, terpilihnya Razak tidak terjadi dalam waktu singkat. Ada latihan, kedisiplinan dan pembinaan yang secara bertahap membentuk keberanian serta kemampuan seorang Pramuka.
“Yang kami banggakan bukan hanya keberangkatannya ke Jamnas, tetapi proses yang sudah dilalui Razak. Pramuka mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, kemandirian hingga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang yang berbeda,” ujarnya.
Ia pun berharap pengalaman yang diperoleh Razak selama berada di tingkat nasional dapat menjadi energi baru bagi kegiatan Pramuka di Kateman.
“Setelah kembali, Razak bisa menjadi contoh bagi teman-temannya. Ilmu dan pengalaman yang didapat selama Jamnas hendaknya dibawa pulang dan dibagikan kepada adik-adik Pramuka lainnya,” tambah Kak Heri.
Pesantren Membuka Ruang untuk Bertumbuh
Keikutsertaan Razak juga mendapat apresiasi dari Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman Kateman, KH Fardian Riva’i Hidayatullah, S.Ag.
Menurutnya, dunia pendidikan tidak hanya berbicara tentang pelajaran yang diterima di dalam kelas. Anak-anak juga membutuhkan pengalaman di luar ruang pembelajaran untuk melatih kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab dan kemampuan bekerja sama.
“Di pondok, santri bukan hanya belajar. Santri juga perlu belajar berorganisasi, belajar bertanggung jawab, belajar bekerja sama dan belajar berinteraksi dengan masyarakat. Semua itu merupakan bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter,” tuturnya.
Ia menilai pengalaman Razak dapat menjadi contoh bahwa seorang santri memiliki banyak ruang untuk berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan yang telah diperolehnya di pesantren.
“Jangan merasa bahwa belajar hanya sebatas di dalam kelas. Ada banyak ruang untuk mengembangkan diri, salah satunya melalui organisasi dan kegiatan kepramukaan,” katanya.
KH Fardian berharap keberhasilan tersebut menumbuhkan keberanian di kalangan santri dan generasi muda Kateman untuk mengambil kesempatan ketika peluang datang.
Ketika Anak Daerah Berani Bermimpi Besar
Jamnas XII 2026 menjadi salah satu momentum besar Gerakan Pramuka yang mempertemukan Pramuka Penggalang dari berbagai wilayah Indonesia serta peserta dari sejumlah negara sahabat.
Kegiatan yang berlangsung 13–20 Agustus 2026 itu tidak hanya menawarkan suasana perkemahan. Peserta mendapatkan kesempatan mengembangkan keterampilan, kreativitas, kemandirian, kepemimpinan dan kemampuan membangun persahabatan lintas daerah.
Semangat tersebut sejalan dengan tema Jamnas XII, “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.”
Bagi masyarakat Kateman, perjalanan Razak menjadi cerita tersendiri. Ia menunjukkan bahwa anak yang tumbuh jauh dari pusat kota tetap mempunyai peluang untuk tampil ketika memiliki kemauan, disiplin dan keberanian untuk mengikuti proses.
Razak mungkin hanya satu nama dari ribuan peserta Jamnas XII. Namun bagi Kateman, langkahnya mempunyai arti yang lebih besar.
Ia membawa identitas daerah, pesantren dan gerakan Pramuka di pundaknya. Dari Kateman menuju Cibubur, ia membawa satu pesan sederhana: anak daerah juga bisa berdiri di panggung nasional.
Kini, pengalaman itu diharapkan menjadi bekal untuk perjalanan berikutnya—bukan hanya bagi Razak, tetapi juga bagi generasi muda Kateman yang suatu hari ingin mengikuti jejaknya.
(Sulaiman)




