SuaraInhil.com,Kateman — Di tengah kehidupan masyarakat pesisir Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, semangat kepramukaan tumbuh bukan sekadar melalui latihan baris-berbaris, perkemahan maupun kegiatan organisasi. Dari lingkungan yang sederhana itu, lahir proses pembinaan yang perlahan membuka jalan bagi generasi muda untuk mengenal dunia yang lebih luas.
Salah satu sosok yang mengambil bagian dalam perjalanan tersebut adalah Kak Dani Sartika, S.E., M.M., pembina Gerakan Pramuka di SMK An-Nur Kuala Selat, Gugus Depan 03.031–03.032.
Bagi Kak Dani, Pramuka memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas kepanduan. Gerakan tersebut menjadi ruang pendidikan karakter bagi anak-anak dan remaja untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, bekerja sama, berani mengambil keputusan serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Dari pemahaman itulah pembinaan Pramuka di SMK An-Nur Kuala Selat terus dikembangkan. Keterbatasan geografis sebagai wilayah pesisir tidak dipandang sebagai alasan untuk membatasi kesempatan anak-anak dalam mendapatkan pengalaman dan berprestasi.
Justru dari keterbatasan tersebut muncul keyakinan bahwa anak-anak yang tumbuh di desa juga memiliki hak yang sama untuk memiliki cita-cita besar dan mengenal dunia di luar lingkungan tempat mereka dibesarkan.
Dalam prosesnya, kegiatan kepramukaan dibangun secara bertahap. Latihan, pembinaan kedisiplinan, penguatan kerja sama hingga pemberian kesempatan mengikuti berbagai kegiatan menjadi bagian dari proses pendidikan yang dijalankan bersama antara pembina, sekolah dan anggota Pramuka.
Hasil pembinaan tersebut kemudian terlihat dari capaian Gugus Depan yang berhasil meraih predikat Gudep Tergiat selama tiga tahun berturut-turut.
Capaian itu menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan Gerakan Pramuka di SMK An-Nur Kuala Selat. Namun bagi Kak Dani, prestasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari kerja bersama seluruh unsur yang terlibat.
Pembina, guru, anggota Pramuka, pihak sekolah, orang tua serta berbagai pihak lainnya memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya kegiatan kepramukaan.
Sebab, bagi seorang pembina, keberhasilan tidak selalu diukur dari jumlah piala yang berhasil dibawa pulang. Ada pencapaian yang jauh lebih mendasar, yakni ketika seorang anak yang sebelumnya ragu mulai percaya diri, yang semula takut tampil berani mengambil peran, dan mereka yang awalnya hanya mengenal lingkungan sekitar kemudian memiliki keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Dari Kuala Selat ke Raimuna Nasional
Salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan pembinaan tersebut adalah keberhasilan mengantarkan generasi Pramuka Penegak dari Kuala Selat mengikuti Raimuna Nasional sebanyak dua kali pada dua generasi berbeda.
Bagi peserta didik yang tumbuh di sebuah desa pesisir, kesempatan tersebut bukan sekadar perjalanan mengikuti kegiatan nasional. Raimuna Nasional menjadi ruang perjumpaan dengan ribuan Pramuka dari berbagai daerah di Indonesia.
Di sana, para peserta mendapatkan pengalaman baru, mengenal keberagaman, membangun jejaring pertemanan, mengembangkan keberanian dan melihat secara langsung bahwa Indonesia memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk mereka jelajahi.
Mereka berangkat dari Kuala Selat dengan membawa nama sekolah dan daerah. Ketika kembali, mereka membawa pengalaman, wawasan serta keberanian baru yang diharapkan dapat menjadi bekal dalam melanjutkan pendidikan dan perjalanan hidup.
Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kondisi geografis dan latar belakang sebuah daerah tidak semestinya menjadi batas bagi anak-anak dalam mengejar pengalaman dan prestasi.
Bukan Sekadar Membina, tetapi Membuka Jalan
Waktu terus berjalan. Anggota Pramuka silih berganti. Mereka yang dahulu duduk sebagai peserta latihan kemudian tumbuh, melanjutkan pendidikan, bekerja dan menjalani kehidupan masing-masing.
Namun proses pendidikan yang pernah mereka dapatkan diharapkan tidak berhenti ketika mereka meninggalkan pangkalan.
Nilai tentang disiplin, kemandirian, keberanian, kepedulian dan gotong royong menjadi bekal yang dapat mereka bawa ke tengah masyarakat.
Di titik inilah perjalanan seorang pembina menemukan makna yang lebih luas. Pembinaan bukan hanya tentang mencetak peserta lomba atau mengejar penghargaan, tetapi tentang memberikan ruang kepada generasi muda untuk menemukan potensi dirinya.
Kak Dani pun memandang pengalaman sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba, tampil, berkompetisi, bertemu orang baru dan melihat kehidupan di luar lingkungan mereka.
Sebab terkadang, sebuah perjalanan dapat mengubah cara seorang anak melihat dirinya sendiri.
Anak yang sebelumnya merasa kecil karena berasal dari desa dapat pulang dengan keyakinan bahwa dirinya juga mampu berdiri sejajar dengan anak-anak lain dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari Desa Pesisir untuk Indonesia
Perjalanan pembinaan Gerakan Pramuka di Kuala Selat masih terus berjalan. Generasi baru akan datang, sementara generasi sebelumnya melanjutkan perjalanan hidup mereka dengan membawa nilai-nilai yang pernah dipelajari.
Bagi Kak Dani Sartika, masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan. Masih ada anak-anak pesisir yang membutuhkan kesempatan untuk berkembang dan masih ada generasi muda yang perlu diyakinkan bahwa tempat mereka dilahirkan bukanlah batas bagi masa depan.
Dari Kuala Selat, sebuah pesan sederhana menjadi semangat dalam pembinaan: jangan takut bermimpi hanya karena berasal dari desa.
Sebab laut yang setiap hari berada di hadapan anak-anak pesisir bukan hanya hamparan air yang memisahkan mereka dari tempat lain. Laut juga dapat menjadi simbol bahwa selalu ada ruang yang lebih luas untuk dijelajahi.
Dan dari sebuah desa pesisir di Kabupaten Indragiri Hilir, langkah kecil melalui Gerakan Pramuka terus diarahkan untuk melahirkan generasi yang berani belajar, berkarya dan mengabdi.
Dari pesisir Kuala Selat, untuk Indonesia.
Kak Dani Sartika, S.E., M.M.
Penggerak Pramuka Desa Kuala Selat
Gerakan Pramuka SMK An-Nur Kuala Selat
Gudep 03.031–03.032

(Sulaiman)




