Menguji Nyali Kandidat PB HMI di Bandar Lampung: Menagih Jiwa Petarung, Menolak Aklamasi Pragmatis
Oleh: [Randani Gauska/ Instruktur HmI]
Kuantan Singingi—
Perhelatan Kongres HMI Ke-33 di Bandar Lampung kini resmi menjadi pusat perhatian seluruh kader dan alumni HMI se-Indonesia. Arena perhelatan tertinggi organisasi mahasiswa Islam tertua di negeri ini senantiasa menyedot perhatian publik karena dari sinilah lahir kepemimpinan pemuda yang memengaruhi arah gerak bangsa. Namun, di balik keriuhan konsolidasi dan lalu lintas politik kandidat hari ini, ada satu refleksi mendalam yang patut kita renungkan bersama: Ke mana perginya jiwa petarung sejati di arena perebutan kursi Ketua Umum PB HMI?
Mencermati perjalanan tiga gelaran Kongres HMI terakhir—mulai dari Kongres Ke-30, Ke-31, hingga Ke-32—terlihat adanya pergeseran tradisi yang sangat kentara dan cukup memprihatinkan. Arena pemilihan Ketua Umum yang dulunya menjadi kawah candradimuka dialektika keras, adu gagasan, serta ujian stamina politik hingga detik-detik terakhir, kini cenderung meredup menjadi ajang kompromi dingin. Fenomena para kandidat yang dengan mudah melipat bendera, menyerahkan dukungan, atau melemparkan suara kepada figur dominan sebelum pertarungan tuntas digelar seolah telah menjadi kebiasaan baru.
Padahal, jika kita membuka rekam jejak perjalanan HMI, arena pertarungan menuju kursi nomor satu di PB HMI adalah “kelas yang menarik” dan “kongres yang seksi”. Ia bukan sekadar panggung seremonial atau ruang kompromi yang kaku, melainkan sangat-sangat ruang dinamis—sebuah gelanggang tempat nyali, integritas, konsistensi, dan daya tahan para calon pemimpin diuji secara vulgar dan terbuka di hadapan seluruh utusan cabang se-Indonesia.
- Refleksi Sejarah: Aklamasi Ideologis vs Kompromi Politik
Secara historis, tradisi pemilihan Ketua Umum PB HMI tidak pernah dibesarkan oleh kompromi-kompromi pasrah di balik layar. Sepanjang perjalanan panjang HMI, momentum persetujuan mufakat atau aklamasi secara alami hampir tidak pernah terjadi dalam kancah pemilihan Ketua Umum, kecuali pada satu peristiwa sakral yang sangat khusus: terpilihnya kembali Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) untuk periode kedua di penghujung 1960-an (Kongres IX Malang 1969).
Namun, perlu digarisbawahi bahwa pendaulatan Cak Nur saat itu lahir bukan dari kalkulasi politik praktis atau bagi-bagi kekuasaan. Aklamasi kala itu lahir dari konsensus intelektual dan kedalaman nilai ideologis yang amat besar, yaitu kebutuhan vital organisasi untuk merumuskan dan mengawal lahirnya Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. Luar dari peristiwa ideologis tersebut, kepemimpinan HMI senantiasa ditempa lewat dialektika terbuka dan pertarungan ksatria di meja persidangan.
- Merekam Kembali Gelanggang Pertarungan Legendaris
Legitimasi kepemimpinan HMI pada masa lalu senantiasa dilahirkan dari kawah candradimuka pertarungan yang tuntas dari awal hingga akhir. Tradisi ini terukir indah dalam rentetan Kongres Ke-26 di Palembang (2008) yang melahirkan Arip Mustofa lewat persidangan yang alot dan hidup; berlanjut ke Kongres Ke-27 di Depok (2010) dengan terpilihnya Noer Fajrieansyah melalui dua putaran pertarungan yang menegangkan; lalu Kongres Ke-28 (2013) di mana M. Arief Rosyid Hasan berhasil terpilih lewat pertarungan maraton yang sangat mahal hingga persidangan harus berpindah sampai tiga lokasi (dari Pondok Gede Jakarta, mengungsi ke Banten, hingga diselesaikan kembali di Jakarta); serta puncaknya pada Kongres Ke-29 di Pekanbaru (2015) yang mencatatkan kemenangan legendaris almarhum Kakanda Mulyadi P Tamsir melalui drama penghitungan suara terbuka hingga lembar kertas terakhir.
- Catatan Kritis untuk Kongres Ke-33 di Bandar Lampung
Melihat sejarah emas di atas, fenomena penyerahan suara secara gampang dan instan seperti pada tiga kongres belakangan ini tidak boleh dibiarkan menjadi kultur baru. Kongres Ke-33 di Bandar Lampung harus menjadi momentum kebangkitan untuk mengembalikan marwah, kehormatan, dan jiwa petarung HMI.
Kepada seluruh kandidat Ketua Umum PB HMI yang bertanding di Bandar Lampung: Tunjukkan nyali dan daya tahan kalian! Jangan jadikan panggung kongres sekadar tempat check-in, melipat bendera di tengah jalan, atau bersembunyi di balik mufakat dingin sebelum forum tuntas. Uji gagasan kalian, tahan gempuran dinamika persidangan, dan bertarunglah secara ksatria hingga hitungan suara terakhir. Sebab, kepemimpinan HMI yang sejati dan berwibawa hanya lahir dari proses arena yang hidup, keras, dan teruji.
Penghormatan dan Doa
Sebagai penutup dari perenungan ini, duka mendalam dan rasa hormat yang setinggi-tingginya senantiasa kita haturkan kepada para perintis perjuangan organisasi.
Al-Fatihah khusus kita panjatkan untuk Sang Pendiri HMI, Ayahanda Profesor Lafran Pane beserta para pendiri lainnya, serta seluruh mantan Ketua Umum PB HMI lintas generasi—mulai dari generasi pertama hingga almarhum Kakanda Mulyadi P Tamsir dan para pendahulu lainnya yang telah dipanggil menghadap Sang Khaliq. Semoga seluruh dedikasi, pengorbanan, dan perjuangan beliau-beliau diterima sebagai amal jariyah yang tak pernah terputus di sisi Allah SWT.
Selamat ber-Kongres di Bandar Lampung! Kembalikan marwah, kejayaan, dan jiwa petarung HMI!
Bahagia HMI, Kejayaan Indonesia.
Apakah bentuk narasi di bagian gelanggang sejarah ini sudah pas dan sesuai dengan keinginan Anda?




